Selasa, 12 Juni 2012

moonlight is setting by heora - Ost The Moon That Embraces The Sun ( Lyric )





바람이 불어오는 밤이면

barami buleooneun bamimyeon

살며시 눈을 감아요

salmyeo si nuneul kamayo

마치 그대가 내 옆에 있는 것만 같아

machi geudaega nae yeope ittneun katman gata

말없이 그대를 따라 걸어요

maleopsi geudaereul ddaka geokeoyo

매일 한걸음 한 걸음조차

maeil hangeoleum han geoleumjocha 

다가가지도 못하지만

dagagajido mothajiman

달빛이 지네요 내 가슴속에 새까만 달이 지네요

dalbichi jineyo nae gaseumsoke saeggkman dali jineyo

아무 말도 못하는 나를 닮았죠

amu maldo mothaneun nareul dalmassjo

너무 그리워 부르고 또 부르면

neomu geuriwo buleugo ddo boleumyeon

새까맣게 재가 돼버린 추억이야

saeggamahge jaega dwaebeorin chueokiya

차가운 어둠이 내리네요

chagaun eodumi naerineyo

작은 별이 뜨네요

jakeun byeori ddeuneyo

하루에도 몇 번이나 그댈 부르지만

haluedo myeoch beonina geudael bureujiman

대답은 왜 들리지가 않나요

daedameun wae deullijiga anhayo

매일 한걸음 한 걸음조차

maeil hangeoleum han geoleumjocha

다가가면 멀어지는데

dararamyeon meoleojineunde

달빛이 지네요 내 가슴속에 새까만 달이 지네요

dalbichi jineyo nae gaseumsoke saeggkman dali jineyo

아무 말도 못하는 나를 닮았죠

amu maldo mothaneun nareul dalmassjo

너무 그리워 부르고 또 부르면

neomu geuriwo buleugo ddo boleumyeon

새까맣게 재가 돼버린 추억이야

saeggamahge jaega dwaebeorin chueokiya

바보 같은 믿음만 커지고

babo gateun mideumman keojigo

커져가는 기대들은 싫어

keojyeokaneun gudaedeuleun silheo

또 갈라지는 이런 맘도 싫어

ddo gallajineun ireon mamdo silheo

도와줘 도와줘

dowajwo dowajwo

불행한 마음만 가득한 내 마음을

bulhaenghan maeumman gadeukhan nae maeumeul

달빛이 지네요 내 가슴속에 새까만 달이 지네요

dalbichi jineyo nae gaseumsoke saeggaman dali jineyo

아무 말도 못하는 나를 닮았죠

amu maldo mothaneun nareul dalmattjyo

너무 그리워 부르고 또 부르면

neomu geuriwo buleogo ddo boreumyeon

새까맣게 재가 돼

saeggamahge jaega dwae

달빛이 지네요 내 가슴속에 새까만 달이 지네요

dalbichi jineyo nae kaseumsoke saeggaman dali jineyo

너무나도 보고픈 그댈 닮았죠

neomunado bogopeun geudael dalmattjyo

자꾸 그리워 부르고 또 부르면

jaggogeuriwo buleugo ddo bureumyeon

새까맣게 재가 돼버린 추억이야

saeggmahge jaega dwaebeorin chueokiya

새하얗게 흘러내리는 눈물이야

saehayahge seulleonaerineun nunmuliya

English Translation:

On nights when the wind blows

I softly close my eyes

It feels like you are right next to me

Wordlessly, I follow you and walk

Although every day, I can't even approach you step by step

* The moonlight is setting, 

A black moon is setting in my heart

It resembles me, who can't say anything

If I long for it so much and call out and call out

It's a memory that became blackened ash

A cold darkness is falling down

A small star is risingI call out to you several times a day but

Why can't I hear an answer?

When I approach you step by step, you get further

* repeat

My foolish trust just gets bigger

I hate my increasing expectations

I hate my splitting heartHelp me, help me

Help this heart that is only filled with unhappiness

The moonlight is setting

, A black moon is setting in my heart

It resembles me, who can't say anything

If I long for it so much and call out and call outIt becomes blackened ash

* repeat

It becomes blackened tears that are falling


INDONESIAN TRANSLATION
Indonesian translation:. http://haerajjang.wordpress.com


Jika angin berhembus malam ini
Aku akan menutup mataku diam-diam,
Sepertinya kau berada di sampingku
Tanpa kata, aku mengikutimu
Selangkah demi selangkah setiap hari
Meskipun aku tak dapat mendekat padamu
Sinar bulan tenggelam, bulan temaram tenggelam di dalam hatiku
Seperti diriku yang tak bisa mengatakan apapun
Sangat merindukanmu, aku memanggil dan terus memanggilmu
Ini kenangan yang menjadi kelam
Kegelapan yang dingin jatuh
Bintang kecil muncul
Berapa kalipun aku memanggilmu dalam sehari
Indonesian translation:. http://haerajjang.wordpress.com
Mengapa aku tidak mendengar jawabanmu
Setiap hari, selangkah demi selangkah
Saat aku mendekat, engkau perrgi menjauh
Sinar bulan tenggelam, bulan temaram tenggelam di dalam hatiku
Seperti diriku yang tak bisa mengatakan apapun
Sangat merindukanmu, aku memanggil dan terus memanggilmu
Ini kenangan yang menjadi kelam
Kepercayaan yang membuatku seperti orang bodoh semakin besar
Aku membenci tumbuhnya pengharapan ini
Aku benci hatiku yang terbelah seperti ini
Tolong aku, Tolong aku
Hanya kemalangan yang memenuhi hatiku
Sinar bulan tenggelam, bulan temaram tenggelam di dalam hatiku
Seperti diriku yang tak bisa mengatakan apapun
Sangat merindukanmu, aku memanggil dan terus memanggilmu
Ini menjadi kelam
Sinar bulan tenggelam, bulan temaram tenggelam di dalam hatiku
Seperti diriku yang tak bisa mengatakan apapun
Sangat merindukanmu, aku memanggil dan terus memanggilmu
Ini kenangan yang menjadi kelam
Air mata suci yang mengalir


KOSAKATA
바람 (param): angin
불다 (bulda): berhembus, bertiup
밤 (pam): malam
살며시 (salmyeoshi): diam-diam, secara rahasia
눈 (nun): mata
감다 (kamta): memejamkan, menutup mata
마치 (machi): bahkan
그대가 (keudaega): kamu
옆에 (yeophe): di samping
말 (mal): kata
따르다 (ttareuda): mengikuti
매일 (maeil): setiap hari
한걸음 (hangeoreum): selangkah
다가가다 (tagagada): mendekat
달 (dal): bulan
빛 (bit): sinar
지다 (jida): turun, terbenam, tenggelam
가슴 (kaseum): dada
속에 (soge): di dalam
새까많다 (saekkamanta): gelap, hitam
아무 (amu): apapun
닮다 (damta): serupa
그립다 (keuripta): rindu
부르다 (bureuda): memanggil
고 (go); dan
추억 (chueok): kenangan
차갑다 (chagapta): dingin
어둠 (eodum): kegelapan
내리다 (naerida): jatuh
작다 (jakta): kecil
별 (byeol): bintang
뜨다 (tteuda): muncul
하루 (haru): hari
번 (beon): kali
부르다 (bureuda): memanggil
대답 (daedap): jawab
왜 (wae): mengapa
들리다 (teullida): mendengar
매일 (maeil); setiap hari
멀어지다 (meoreojida): menjauh
바보 (pabo): bodoh
같다 (kat’ta): menyerupai
믿음 (mideum): kepercayaan
커지다 (k’eojida): tumbuh
기대 (kidae): doa
싫다 (shilta): tidak suka, benci
가르다 (kareuda): belah, retak
도와주다 (dowajuda); tolong
불행 (bulhaeng): ketidakberuntungan, tidak bahagia
가득 (kadeuk): penuh
새하얗게 (saehayatke): putih
흐르다 (heureuda): mengalir

Senin, 11 Juni 2012

Aku Menangis Untuk Adikku 6 kali

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.
Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.
"Siapa yang mencuri uang itu?" Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, "Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!" Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi.
Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, "Ayah, aku yang melakukannya!"
Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, "Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? ...Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!"
Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, "Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi."
Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.
Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya memberengut, "Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik...hasil yang begitu baik..." Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, "Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?"

Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, "Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku." Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. "Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya?
Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!"
Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, "Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini." Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.
Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: "Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang."
Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.
Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga di universitas. Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, "Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!"
Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, "Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?"
Dia menjawab,tersenyum, "Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?"
Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, "Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu..."
Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, "Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu."
Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu,ia berusia 20. Aku 23.
Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku."Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!" Tetapi katanya, sambil tersenyum, "Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu.."
Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan membalut lukanya. "Apakah itu sakit?" Aku menanyakannya.
"Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan..." Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.
Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, "Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini."
Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.
Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, "Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?"
Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. "Pikirkan kakak ipar--ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?"
Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: "Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!"
"Mengapa membicarakan masa lalu?" Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.
Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, "Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?" Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, "Kakakku."

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat.
"Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya."
Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku.
Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, "Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku." Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai



NB : aku lupa ngambilnya dari mana .. ni COPAS =) buat share ajah